Mahasiswa Kimia Universitas Lampung Ciptakan Smart Air Indoor Adsorbent untuk Mendegradasi Polutan Ruangan

Berdasarkan penelitian American College of Allergies sekitar 50% penyakit disebabkan oleh pencemaran udara dalam ruangan. United States Enviromental Protection Agency (US EPA) menyatakan bahwa udara dalam ruangan dua sampai sepuluh kali lebih berbahaya dibandingkan udara luar ruangan. Hanya dengan memanfaatkan udara resirkulasi di dalam ruangan yang digunakan untuk bernafas, udara luar yang masuk melalui ventilasi akan berkurang bahkan hingga ke titik nol. Hal ini mengakibatkan buruknya kualitas udara dalam ruangan (indoor air quality atau IAQ) sehingga terdapat banyak radikal bebas bersumber dari asap rokok, ozon dari mesin fotokopi dan printer, perabotan, cat serta bahan pembersih.

“Pada Tim PKM kami melakukan studi literatur mengenai kandungan asap rokok. Asap rokok adalah gas berbahaya yang memiliki banyak polutan polutan berbahaya dari TAR, CO, CO2 dan masih banyak beberapa lagi. Kerap kita temukan beberapa tempat termasuk rumah hingga di ruangan khusus merokok,dimana asap rokok tersebut hanya dibuang ke alam atau di hilangkan dengan alat yang belum menghilangkan polutan organik yang berbahaya lainnya. Kami dari tim PKM KC Universitas Lampung membuat suatu alat yang dinamakan SAIA (Smart Air Indoor Adsorbent) alat ini menggunakan filter yang dinamakan Karbosil (Karbon Silika) sebaga adsorben yang berasal dari limbah sekam padi yang tidak terpakai. Filter tersebut bekerja dengan bantuan mikrokontroler adruino uno dengan sensor MQ 135 dan Sensor CCS 811 untuk menggerakan kipas sebagai penghisap udara yang kotor dan LCD serta lampu indikator untuk mengetahui bahwa banyak polutan polutan diruangan tersebut” jelas Andreas.

“Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan asap rokok yaitu dengan mendegradasi polutan dengan adsorpsi. Setiap unit purifikasi udara menggunakan proses adsorpsi dengan variasi filter yang berbeda-beda serta memiliki keunggulan masing-masing. Pada penelitian ini dilakukan konsep desain rekayasa sebuah unit purifikasi udara dalam ruangan yang bekerja berdasarkan proses adsorpsi dengan menggunakan filter berupa adsorben karbon-silika (karbosil) dari sekam padi yang mengandung silika hingga 97%. Keuntungan adsorben ini dapat diregenerasikan dan teknologi penerapannya juga sederhana. Selain itu, karbosil memiliki kemampuan adsorpsi yang lebih baik dari silika dan karbon aktif biasanya karena memiliki luas permukaan yang besar dan daya adsorpsi yang tinggi” jelas Syaydati.

Hasil penelitian ini menjadi gagasan dibuatnya Proposal Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Karsa Cipta yang berjudul “Smart Air Indoor Adsorbent Unit Purifikasi Udara dalam Ruangan Berbasis Filter Karbon-Silika” yang berhasil lolos seleksi pendanaan Kemendikbud periode 2019-2020 dan berhak maju ke tahap selanjutnya.

Penulis : Nana Maulana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *